Rabu, 05 November 2014

Lagi, Bu Susi..











Rhenald Kasali                               
(@Rhenald_Kasali)



KOMPAS.com — Saya kebetulan mentor bagi dua orang ini: Dian Sastro dan Mooryati Soedibyo. Akan tetapi, pada Susi Pudjiastuti yang kini menjadi menteri, saya justru belajar.Ketiganya perempuan hebat, tetapi selalu diuji oleh sebagian kecil orang yang mengaku pandai. Entah ini stereotyping, atau soal buruknya metakognisi bangsa. Saya kurang tahu persis.Mooryati SoedibyoSewaktu diterima di program doktoral UI yang pernah saya pimpin, usianya saat itu sudah 75 tahun. Namun, berbeda dengan mahasiswa lain yang datang pakai jins, dia selalu berkebaya. Anda tentu tahu berapa lama waktu yang diperlukan untuk berkebaya, bukan?
KOMPAS/AGUS SUSANTO Mooryati Soedibyo, pengusaha jamu dan kosmetika tradisional

Akan tetapi, ia memiliki hal yang tak dimiliki orang lain: self discipline. Sampai hari ini, dia adalah satu-satunya mahasiswa saya yang tak pernah absen barang sehari pun. Padahal, saat itu ia salah satu pimpinan MPR.

Memang ia tampak sedikit kewalahan "bersaing" dengan rekan kuliahnya yang jauh lebih muda. Akan tetapi, rekan-rekan kuliahnya mengakui,  kemajuannya cepat. Dari bahasa jamu ke bahasa strategic management dan science yang banyak aturannya.

Teman-teman belajarnya bersaksi: "Pukul 08.00 malam, kami yang memimpin diskusi. Tetapi pukul 24.00, yang muda mulai ngantuk, Ibu Moor yang memimpin. Dia selalu mengingatkan tugas harus selesai, dan tak boleh asal jadi."

Masalahnya, ia pemilik perusahaan besar, dan usianya sudah lanjut. Ada stereotyping dalam kepala sebagian orang. Sosok seperti ini jarang ada yang mau kuliah sungguhan untuk meraih ilmu. Nyatanya, kalangan berduit lebih senang meraih gelar doktor HC (honoris causa) yang jalurnya cukup ringan.

Akan tetapi, Mooryati tak memilih jalur itu. Ia ingin melatih kesehatan otaknya, mengambil risiko dan lulus 4 tahun kemudian. Hasil penelitiannya menarik perhatian Richard D’aveni (Tuck School-USA), satu dari 50 guru strategi teratas dunia. Belakangan, ia juga sering diminta memaparkan kajian risetnya di Amerika Serikat, Belanda, dan Jerman.

Meski diuji di bawah guru besar terkemuka Prof Dorodjatun Kuntjoro Jakti, kadang saya masih mendengar ucapan-ucapan miring dari orang-orang yang biasa menggunakan kacamata buram dan lidahnya pahit. Ada saja orang yang mengatakan ia "diluluskan" dengan bantuan, "sekolahnya hanya dua tahun", dan seterusnya. Anehnya, kabar itu justru beredar di kalangan perempuan yang tak mau tahu keteladanan yang ia tunjukkan. Kadang ada juga yang merasa lebih tahu dari apa yang sebenarnya terjadi.

Akan tetapi, ada satu hal yang sulit mereka sangkal. Perempuan yang meraih doktor pada usia 79 tahun ini berhasil mewujudkan usahanya menjadi besar tanpa fasilitas. Perusahaannya juga go public. Padahal, yang menjadi dosennya saja belum tentu bisa melakukan hal itu, bahkan membuat publikasi ilmiah internasional saja tidak. Namun, Bu Moor juga berhasil mengangkat reputasi jamu di pentas dunia.

Dian Sastro

Dia juga mahasiswi saya yang keren. Sewaktu diterima di program S-2 UI, banyak juga yang bertanya: apa benar artis mau bersusah payah belajar lagi di UI?

Anak-anak saya di UI tahu persis bahwa saya memang cenderung bersahabat, tetapi mereka juga tahu sikap saya: "no bargain on process and quality".

KOMPAS IMAGES/BANAR FIL ARDHI Model dan artis peran Dian Sastrowardoyo

Dian, sudah artis, dan sedang hamil pula saat mulai kuliah. Urusannya banyak: keluarga, film, dan seabrek tugas. Namun lagi-lagi, satu hal ini jarang dimiliki yang lain: self discipline. Ia tak pernah abai menjalankan tugas.

Sebulan yang lalu, setelah lulus dengan cum laude dari MM UI, ia berbagi pengalaman hidupnya di program S-1 pada kelas yang saya asuh.

"Saat ayah saya meninggal dunia, ibu saya berujar: kamu bukan anak orang kaya. Ibu tak bisa menyekolahkan kalau kamu tidak outstanding," ujarnya.

Ia pun melakukan riset terhadap putri-putri terkenal. Di situ ia melihat nama-nama besar yang tak lahir dari kemudahan. "Saya tidak cantik, dan tak punya apa-apa," ujarnya.

Dengan uang sumbangan dari para pelayat ayahnya, ia belajar di sebuah sekolah kepribadian. Setiap pagi, ia juga melatih disiplin, jogging berkilo-kilometer dari Jatinegara hingga ke Cawang, ikut seni bela diri. "Mungkin kalian tak percaya karena tak pernah menjalaninya," ujarnya.

Itulah mental kejuangan, yang kini disebut ekonom James Heckman sebagai kemampuan nonkognisi. Dian lulus cum laude dari S-2 UI, dari ilmu keuangan pula, yang sarat matematikanya. Padahal, bidang studi S-1 Dian amat berjauhan: filsafat.

Metakognisi Susi

Sekarang kita bahas menteri kelautan dan perikanan yang ramai diolok-olok karena "sekolahnya". Beruntung, banyak juga yang membelanya.

Khusus terhadap Susi, saya bukanlah mentornya. Ia terlalu hebat. Ia justru sering saya undang memberi kuliah. Dia adalah "self driver" sejati, yang bukan putus sekolah, melainkan berhenti secara sadar. Sampai di sini, saya ingin mengajak Anda merenung, adakah di antara kita yang punya kesadaran dan keberanian sekuat itu?

SABRINA ASRIL/KOMPAS.com Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti

Akan tetapi, berbeda dengan kebanyakan orangtua yang membiarkan anaknya menjadi "passenger", ayah Susi justru marah besar. Pada usia muda, di pesisir selatan yang terik, Susi  memaksa hidup mandiri. Ditemani sopir, ia menyewa truk dari Pangandaran, membawa ikan dan udang, dilelang di Jakarta. Hal itu dijalaninya selama bertahun-tahun, seorang diri.

Saat saya mengirim mahasiswa pergi "melihat pasar" ke luar negeri yang terdiri dari tiga orang untuk satu negara, Susi membujuk saya agar cukup satu orang satu negara. Saya menurutinya (kisah mereka bisa dibaca dalam buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor).

Dari usaha perikanannya itu, ia jadi mengerti penderitaan yang dialami nelayan. Ia juga belajar seluk-beluk logistik ikan, menjadi pengekspor, sampai terbentuk keinginan memiliki pesawat agar ikan tangkapan nelayan bisa diekspor dalam bentuk hidup, yang nilainya lebih tinggi. Dari ikan, jadilah bisnis carter pesawat, yang di bawahnya ada tempat penyimpanan untuk membawa ikan segar.

Dari Susi, kita bisa belajar bahwa kehidupan tak bisa hanya dibangun dari hal-hal kognitif semata yang hanya bisa didapat dari bangku sekolah. Kita memang membutuhkan matematika dan fisika untuk memecahkan rahasia alam. Kita juga butuh ilmu-ilmu baru yang basisnya adalah kognisi. Akan tetapi, tanpa kemampuan nonkognisi, semua sia-sia.

Ilmu nonkognisi itu belakangan naik kelas, menjadi metakognisi: faktor pembentuk yang paling penting di balik lahirnya ilmuwan-ilmuwan besar, wirausaha kelas dunia, dan praktisi-praktisi andal. Kemampuan bergerak, berinisiatif, self discipline, menahan diri, fokus, respek, berhubungan baik dengan orang lain, tahu membedakan kebenaran dengan pembenaran, mampu membuka dan mencari "pintu" adalah fondasi penting bagi pembaharuan, dan kehidupan yang  produktif.

Manusia itu belajar untuk membuat diri dan bangsanya tangguh, bijak mengatasi masalah, mampu mengambil keputusan, bisa membuat kehidupan lebih produktif dan penuh kedamaian. Kalau cuma bisa membuat keonaran dan adu pandai saja, kita belum tuntas mengurai persepsi, baru sekadar mampu mendengar, tetapi belum bisa menguji kebenaran dengan bijak dan mengembangkannya ke dalam tindakan yang produktif.

Ketiga orang itu mungkin tak sehebat Anda yang senang melihat kecerdasan orang dari pendekatan kognitif yang bermuara pada angka, teori, ijazah, dan stereotyping. Akan tetapi, saya harus mengatakan, studi-studi terbaru menemukan, ketidakmampuan meredam rasa tidak suka atau kecemburuan pada orang lain, kegemaran menyebarkan fitnah dan rasa benar sendiri, hanya akan menghasilkan kesombongan diri.

Anak-anak kita pada akhirnya belajar dari kita, dan apa yang kita ucapkan dalam kesaharian kita juga akan membentuk mereka, dan masa depan mereka.


Prof Rhenald Kasali adalah Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Pria bergelar PhD dari University of Illinois ini juga banyak memiliki pengalaman dalam memimpin transformasi, di antaranya menjadi pansel KPK sebanyak 4 kali, dan menjadi praktisi manajemen. Ia mendirikan Rumah Perubahan, yang menjadi role model dari social business di kalangan para akademisi dan penggiat sosial yang didasari entrepreneurship dan kemandirian. Saat ini, dia juga maju sebagai kandidat Rektor Universitas Indonesia. Terakhir, buku yang ditulis berjudul Self Driving: Merubah Mental Passengers Menjadi Drivers








Sumber :


http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/11/03/054500426/Mooryati.Soedibyo.Dian.Sastro.dan.Metakognisi.Susi.Pudjiastuti

Senin, 03 November 2014

Ibu Susi yang Fenomenal...

Wes, jujur aja beberapa hari lalu itu bener2 sesek medsos, terutama FB membahas soal ibu Susi, mentri kelautan kita yang baru. Beragam komentar kebanyakan negatif dan nyinyir, sebagian mendukung, sebagian lagi jd galau :p


Beberapa waktu yg lalu kan kita terbelah dua krn pilpres. Beberapa teman malah curhat akibat delcon sesama teman di fb, twitter, dan path gara2 beda pilihan. Bahkan setelah usai pilpres...:)  pun skrg smpai DPR yg kini terbelah dua :p . Membosankan ...trus ktemu deh topic baru yg heboh ini : Ibu Susi...:)


Duh ibu satu itu memang fenomenal, terlepas dari beberapa hal yg menyebabkan kehebohan, secara pribadi terpilihnya beliau sdh memberi angin segar bagi visi indonesia untuk kembali ke "laut"


Dan terus terang,
Daripada ikut2an komentar, ada blog seorang teman (kebetulan seorang ibu jg sama spt saya)  yg menurut saya sungguh menarik utk dibaca :




http://muktiberbagi.wordpress.com/2014/11/04/berprasangka-baik-padamu-buk-susi/


http://muktiberbagi.wordpress.com/2014/10/28/surat-cinta-buat-ibu-mentriku-pejabat-dan-kepatutan-perilaku/


So temans, bersikaplah positif selalu, memaknai perbedaan, mengomentari hal2 yg negatif, tidak selalu harus dengan cara negatif jg. Dengan kasih sayang dan doa, rasanya jauh lebih manfaat..
Seperti kata Aa Gym : "  Ayoo kita hemat bicara, tak perlu setiap ingin bicara langsung bicara, bicaralah bila yakin manfaat...




Salam





Minggu, 20 April 2014

Keep Going..

 Bismillah..


Susahnya mulai menulis lagi. biasanya cukup menulis di bb saja, makin lama makin tidak nyaman karena mata mulai plus. Umur memang pengaruh besar, hehe..

Rasanya kok makin lama makin sulit menemukan tema atau topik yang menarik ya. Terlalu banyak informasi juga ternyata bisa bikin pusing, Mblenger...

Dunia memang terus berputar, terus berjalan. Karena waktu tidak pernah kembali. So mau tidak mau memang harus terus moving, move on, blah blah...

Rutinitas buat aku memang kadang membantu kadang tidak. Semuanya tergantung mood. Bisa sangat membantu, tapi juga bisa bikin frustasi, seperti ide mandek dan kebosanan.

Tapi hidup terus berjalan...
Tik tok...tik tok...

So, cuma bisa bilang, SEMANGAATT!!! ( sigh)



Pamulang, 21 April 2014
Selamat Hari Kartini...

Jumat, 28 Maret 2014

Cerita Sardik..dan Hanny


(Hanny,Toko buku impor, di pojok jakarta..)

Hanny hampir tidak percaya, ia melihat Sardik, setelah  hampir 20 tahun. Disini, tepat didepan toko buku yang biasa ia kunjungi bila pulang ke jakarta. Sardik masih diambang empat puluhan,tapi ia menua dengan cepat. Rambut putihnya merata disemua bagian,kerut di sekitar mata dan mulutnya membuat wajahnya makin kelihatan letih. Sardik kepayahan menjalani hidupnya. Semua tergambar jelas pada raut wajahnya yang tirus.
Hanny menahan nafas. Sesak memenuhi dada nya.


(Sardik, lengkap dgn peralatan perang, sehabis bertugas..)

Penampilan yang sangat kontras, dibanding dirinya. Sardik menunduk memandangi ujung bootnya, Hanny semakin berkilau, menua dengan segala keanggunan. Bahkan Sardik pun dibuat terpesona. Bukan oleh penampilannya yang anggun bersahaja dalam balutan blus hijau kashmir dan rok silknya yang jatuh sangat elegan pada tubuh mungilnya,tapi karena sepasang mata berbentuk badam yang indah itu masih bersorot sama. Tatapan lembut yang membuatmu ingin terus berenang disana.
Sardik menelan ludah, pahit dan menyakitkan hati nya. Cinta itu rupanya masih terpatri di sudut hati nya. Rasa sakit yang nyaman. Aneh.
Ia jadi agak pening, disambutnya genggaman tangan Hanny dengan gerakan enggan yg memilukan. Cuaca panas makin memperparah situasi. Dengan lembut Hanny menuntunnya duduk. Cepat ia melambai, menyuruh pelayan membawakan air. Restoran itu kecil tapi nyaman. Musiknya lembut, dan bau nya manis. Sardik menenggak tandas segelas air es yang disodorkan. Dinikmati nya betul sorot khawatir dimata Hanny. Aah..

Mereka berbicara berjam jam, mengejar ketertinggalan ruang dan waktu. Ketegangan sudah mencair, tawa sesekali mencerahkan udara yang semakin dingin. Sampai saatnya tiba untuk berpamitan.

"Datang saja ke kantor besok" pesan Hanny berkali kali. Menekan lengannya lembut.

Sardik mengangguk cepat. "Ya.." gumamnya

"Aku tungu.."

Senyum sarat harapan, kali terakhir sebelum Hanny menghilang dalam bmw silvernya.

Sardik berdiri menatap cermin, sepasang mata letih menatapnya. Ia kaget melihat begitu menyedihkan bayangannya disana. Mendesah dalam, meratapi kehidupan yang berlari melewati nya. Ia melongok dari jendela lantai 35, tempat nya bekerja. Satu ruangan kecil dengan 4 kursi, 2 loker, 2 bangku panjang, dapur mini dengan rak sederhana, kebanyakan berisi mie instan dan tumpukan harnes, helm, dan tumpukan rapi overal orens, seragam kerja mereka. Pembersih jendela, spesialis bangunan bertingkat di jakarta ini. Pekerjaan dengan upah rendah dan resiko mati. Ya, itu resiko yang harus mereka tanggung setiap hari. Resiko itu sebanding, buat dunia mereka yang kecil, menghidupi anak dan istri.
Sardik bekerja dalam diam, pikirannya selalu fokus bila ada di ketinggian. ia tidak mau mati konyol, jatuh karena teledor. Belum, ia masih butuh pekerjaan ini, sampai saatnya tiba nanti..
Jadi ia bekerja dengan tenang, dan terkontrol. semua peralatan disiapkan dengan rapi, dan teliti. Mereka bekerja dalam tim, beranggotakan 6 orang. Tiap crane beisi 2 orang. 2 orang operator bekerja di bawah. Mengawasi.
Shifnya berahir sore itu, lalu ia bergegas menghampiri shuttle bis yang sudah menunggu, berhenti di halte berikut, dan menghilang dalam commuter...

Bersambung..

Kamis, 12 September 2013

MENGAJARKAN ANAK PANDAI BERHITUNG, SEBERAPA PENTING ?

MENGAJARKAN ANAK PANDAI BERHITUNG, SEBERAPA PENTING ?(Penting untuk di baca oleh PARA ORANG TUA, GURU DAN MENDIKNAS)

Seorang guru di Australia pernah berkata

“Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”

“Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu ?” Kerena yang terjadi di negara kita justru sebaliknya.

Inilah jawabanya;

1. Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.

2. Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.

3. Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.

”Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?”

”Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya;”

1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.

2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.

3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting..

4. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.

5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)

6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.7. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.

8. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.

9. Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.

10. Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.

11. Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.

12. Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain

dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya.

Saya sempat tertegun mendengarkan butir-butir penjelasannya. Dan baru saja menyadari hal ini saat satu ketika mengajak anak kami berkunjung ke tempat bermain anak Kids Zania di Jakarta.

Apa yang di pertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan.

1. Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”

2. Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.

3. Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya di perbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrian permainan yang berbeda.

4. Ada orang tua yang malah marah2 karena di tegur anaknya menyerobot antrian, dan menyalahkan orang tua yang menegurnya.

5. dan berbagai macam kasus lainnya yang mungkin anda pernah alami juga.?

Ah sayang sekali ya.... padahal disana juga banyak pengunjung orang Asing entah apa yang ada di kepala mereka melihat kejadian semacam ini?

Ah sayang sekali jika orang tua, guru, dan Kementrian Pendidikan kita masih saja meributkan anak muridnya tentang Ca Lis Tung (Baca Tulis Hitung), Les Matematika dan sejenisnya. Padahal negara maju saja sudah berpikiran bahwa mengajarkan MORAL pada anak jauh lebih penting dari pada hanya sekedar mengajarkan anak pandai berhitung.

Ah sayang sekali ya... Mungkin itu yang menyebabkan negeri ini semakin jauh saja dari praktek-praktek hidup yang beretika dan bermoral. ?

Ah sayang sekali ya... seperti apa kelak anak2 yang suka menyerobot antrian sejak kecil ini jika mereka kelak jadi pemimpin di negeri ini ?

Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua juga para pendidik di seluruh tanah air tercinta. Untuk segera menyadari bahwa mengantri adalah pelajaran sederhana yang banyak sekali mengandung pelajaran hidup bagi anak dan harus di latih hingga menjadi kebiasaan setiap anak Indonesia.

Yuk kita ajari anak kita untuk mengantri, untuk Indonesia yang lebih baik,Yuk kita mulai dari keluarga kita terlebih dahulu,... mau ?

Salam syukur penuh berkahAyah edy 


Curhatan aja..

Semingguan ini, byk sekali berita heboh di media massa, dari soal penembakan polisi, tawuran, krisis kedele, sampe soal kecelakaannya si Dul...
Semua, dari mulai pakar, orang awam, media,  ikut berkomentar. Lengkap positif negatif. Manusia...

Melihat kesalahan orang lain memang sangat mudah ya, kita ga perlu gelar master buat menyalahkan orang lain...padahaaal belum tentu juga kita lebih baik dari orang yang kita nilai.

Entah apa yang salah di zaman ini, prasangka baik terhadap apapun rasanya makin menipis. Smua serba dicurigai, serba ditelanjangi..ketulusan dan niat baik sdh menguap entah kmana hm..

Mungkin karena rasa frustasi yang sudah bertumpuk terlalu lama, terhadap situasi dan kondisi yg semakin sulit dari hari ke hari. Semua mengalami. Dari mulai bayi, anak usia sekolah, orang tua, bahkan lansia..
Tuntutan ada disemua bidang kehidupan, semua strata sosial. Ketulusan dan Empati sudah semakin jarang, adapun hanya hitungan jari. 

Kembali lagi ke keluarga dan nilai2 luhur yang ditanam dari usia dini. Kembali lagi kepada Alloh, dan mengenal Alloh...jadi satu2 nya jalan di jaman serba edan seperti sekarang ini. Biar nasib tdk seperti rupiah yang diombang ambing tak bermartabat...Subhanalloh



Pamulang, 13 September 2013